''Aku terluka melihat kau dengannya''
Rasanya sakit sekali melihat satya dgn tunangannya, kemarin tak sengaja kudengar pembicaraan mereka yg ingin melanjutkan hubungan mereka ke tahap selanjutnya. Perih, sangat perih. Saking tak tahannya, aku terpaksa berbohong kalo lg tak enak badan dan mesti istirahat.
Padahal sebenarnya ke tempat rahasiaku, alias rumah yg dulu ku tempati bersama ayah dan ibu. Pemandangan di sini sungguh indah, ada perbukitan hingga ku bisa melihat pemandangan kota di bawahnya. Sangat indah.. Di tempat inilah aku menumpahkan semua tangis, kekesalan, dan kekejaman takdir.
Betapa terkejutnya diriku, rumah kenanganku bakal digusur tuk dijadikan lapangan golf (seperti yg tertampang di papan pengumuman). Lututku langsung lemas.
''Minum-minum di bar''
Kali ini aku benar-benar tak tahan akan takdir ini, tangisku pun tak bisa keluar, tak berdaya menghadapi keadaan ini. Aku bukanlah peminum, hanya saja kali ini aku perlu mabuk, agar bisa melupakan semua ini walaupun sekejap.
Diantara sisa-sisa kesadaranku, rasanya kumelihat dekka menghampiri trus memapahku pergi dr klub..
''Keesokan Paginya''
Paginya, kepalaku terasa pusing dan perutku mual. Kusadari, ini bukanlah tempat tidurku tepatnya ruangan yg tak kukenal, dr baunya seperti kamar cowok. Tepatnya ini kamar dekka (dr foto d meja kecil), kayaknya td mlm diriku mabuk berat, sekarang aja kepalaku masih pusing dan perutku mules kayak dputer2.
Pada akhirnya muntah juga di toilet. Dekka menghampiri seraya memijit-pijit leher belakangku. Setelah muntah malah tambah parah
Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts
Monday, December 27, 2010
Sunday, December 26, 2010
Tentang Cintaku part 4
''Satya''
Hubunganku dgn satya sudah membaik. Kadang setiap malam bila tak bisa tidur, saling smsn yg tak penting, kalo g telpon2n, chatting d kantor, bahkan kalo memungkinkan mengantar pulang. Hari itu, tuk pertama kalinya kulihat tunangannya, hatiku sangatlah sakit, aku cemburu.. Namanya rika, cewek yg sangat cantik, terpelajar dan kaya, dokter pula (seperti kata brey), laki-laki mana yg tak menyukainya.
Sungguh.. Aku cemburu.. Aku harus bersikap wajar, mengingat kembali posisiku sbg bawahannya dan merangkap teman, yup just a friend.
''Ke rumah Kakek''
Kali ini aku diundang kakek k rumahnya. Baru kali ini kulihat rumah semegah ini, kayak d film2 aja. Tamannya luas, ada kolam renang dll dh. Aku merasa de ja vu, kayaknya pernah ke sini sebelumnya, dgn menutup mata aku bisa membayangkan letak ruangan, hanya saja perabotannya berbeda dr penglihatanku. Kakek hanya ketawa trus bilang tentu saja aku mengenal rmh ini, dulu tiap akhir pekan ayahku membawa ke sini.
''aku kehilangan ingatan masa kecilku kek, entah kenapa..''
Di ruang tamu kulihat seorang cowok yg memandang lurus ke jendela yg menghadap ke taman. Ketika dia berbalik dan tersenyum padaku, tuk k'2 kalinya merasakan de ja vu.
Dia adalah dekka, cucu kakek, lebih tua 2thn drku. Aku tak suka pandangannya padaku, seperti menyelidik. Tapi, di matanya kulihat kehangatan.
Sore itu dihabiskan dgn nonton film komedi di ruang keluarga yg 'home theather'nya super canggih, ngobrol ngalur ngidur, dan makan malam. Aku suka senyumnya dekka, senyum tulus penuh kewibawaan, berbeda dgn senyumku yg penuh keterpaksaan.
''Dekka Mengantar Pulang''
''kakak, apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Setiap melihatmu rasanya merasakan de ja vu masa kecilku. Kau tau aku kehilangan ingatan masa kecilku?''
''Tentu saja, kau adalah teman bermainku dulu sebelum pindah ke Jepang. Aku tak tau soal ingatanmu yg hilang, ketika aku berumur 6thn pindah ke Jepang. Ku sarankan, jgn mencoba mengingatnya. Karena ingatan itu pasti akan datang dgn sendirinya!''
Hubunganku dgn satya sudah membaik. Kadang setiap malam bila tak bisa tidur, saling smsn yg tak penting, kalo g telpon2n, chatting d kantor, bahkan kalo memungkinkan mengantar pulang. Hari itu, tuk pertama kalinya kulihat tunangannya, hatiku sangatlah sakit, aku cemburu.. Namanya rika, cewek yg sangat cantik, terpelajar dan kaya, dokter pula (seperti kata brey), laki-laki mana yg tak menyukainya.
Sungguh.. Aku cemburu.. Aku harus bersikap wajar, mengingat kembali posisiku sbg bawahannya dan merangkap teman, yup just a friend.
''Ke rumah Kakek''
Kali ini aku diundang kakek k rumahnya. Baru kali ini kulihat rumah semegah ini, kayak d film2 aja. Tamannya luas, ada kolam renang dll dh. Aku merasa de ja vu, kayaknya pernah ke sini sebelumnya, dgn menutup mata aku bisa membayangkan letak ruangan, hanya saja perabotannya berbeda dr penglihatanku. Kakek hanya ketawa trus bilang tentu saja aku mengenal rmh ini, dulu tiap akhir pekan ayahku membawa ke sini.
''aku kehilangan ingatan masa kecilku kek, entah kenapa..''
Di ruang tamu kulihat seorang cowok yg memandang lurus ke jendela yg menghadap ke taman. Ketika dia berbalik dan tersenyum padaku, tuk k'2 kalinya merasakan de ja vu.
Dia adalah dekka, cucu kakek, lebih tua 2thn drku. Aku tak suka pandangannya padaku, seperti menyelidik. Tapi, di matanya kulihat kehangatan.
Sore itu dihabiskan dgn nonton film komedi di ruang keluarga yg 'home theather'nya super canggih, ngobrol ngalur ngidur, dan makan malam. Aku suka senyumnya dekka, senyum tulus penuh kewibawaan, berbeda dgn senyumku yg penuh keterpaksaan.
''Dekka Mengantar Pulang''
''kakak, apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Setiap melihatmu rasanya merasakan de ja vu masa kecilku. Kau tau aku kehilangan ingatan masa kecilku?''
''Tentu saja, kau adalah teman bermainku dulu sebelum pindah ke Jepang. Aku tak tau soal ingatanmu yg hilang, ketika aku berumur 6thn pindah ke Jepang. Ku sarankan, jgn mencoba mengingatnya. Karena ingatan itu pasti akan datang dgn sendirinya!''
Tentang Cintaku Part 3
''Dua Minggu Berselang''
Rasanya dua minggu ini terasa lebih lama, dgn segenap kemampuan dan alasan diriku mencoba menghindar dr Satya. Ajakan makan siang selalu kutolak dgn berbagai alasan, membawa bekal lah, diajakin teman, g nafsu makan, hingga akhirnya kubilang kondisi kami sudah berubah, bukan lg sbg sahabat atau teman, melainkan antara atasan dan bawahan, lagian dia sudah bertunangan, bagaimana dgn pandangan org lain.
Mau tak mau mesti bercerita dgn rekan kerja (ria, mari, anton, brey dan maya). Kubilang kami teman seangkatan dan 1geng, hanya aja ketika kuliah berakhir kami bertengkar hebat hingga tak bertegur sapa dan kehilangan kontak. Jadinya sekarang terlihat canggung. Untungnya mereka mengerti. Baru 2minggu bekerja bersama mereka, rasanya sudah lama mengenal mereka. Canda tawa, keterbukaan, berbagi info dan tips, humor hingga membuat pekerjaan terasa lebih ringan.
Hingga akhirnya aku tak bisa menolak ajakan satya tuk mengantar pulang. Kini dia punya mobil tak seperti dulu yg naik motor, kelasnya kini berbeda denganku. Di mobil hanya diam-diaman, bingung dan canggung tuk memulai pembicaraan. Satya bilang ini bukan situasi atasan dan bawahan, tetapi teman lama yg baru bertemu (sambil membelokkan mobilnya ke cafe yg biasanya pas kuliah kami datangi).
Rasanya kembali ke masa lalu, ke malam itu, ketika kami bertengkar hebat. Karena aku terlalu membela helyan dan tak mempercayainya. Karena kutau kpn satya berbohong, dan kulihat tanda itu di matanya. Sejak malam itu persahabatan kami berakhir.
Kembali ke masa sekarang..
Satya bilang, sulit baginya tuk menganggap diriku bawahannya, memandang sama dgn staff yg lain, karena kami adalah org yg saling mengenal seperti saudara. Hingga kini tak ada org yg menggantikanku sbg sahabat terbaik, yg memahami kelemahan yg dia miliki. Kehilanganku masih bisa teratasi, tapi melihatku kembali terasa lebih sulit ribuan kali. Kulihat dia benar-benar tertekan.
'apa maumu? Apakah aku mesti berhenti kerja?'
'bukan itu maksudku! Kumohon jadilah temanku lagi, berada di sisiku!'
'apa maksud berada di sisimu?'
'entahlah..ku ingin seperti dahulu, teman bicara, berbagi kisah dan cerita, rasanya hidupku terasa lebih sulit tanpamu. Bolehkah aku meminta seperti itu?'
Tak terasa air mataku pun mengalir mengenang masa2 kuliah dulu. Hidupku pun terasa ribuan kali lebih sulit tanpa dirinya.
'hidupku juga terasa lebih sulit, hanya saja tuk kembali seperti dulu sungguh tak mungkin. Namun, sbg teman biasa yg mendengarkan curhat, kurasa itu mungkin. Kondisi sudah berubah dan waktu tlah berlalu.'
''Bertemu kembali dgn Kakek''
Entah dr mana kakek mengetahui tempat tinggalku, mungkin bg org kaya itu sangatlah mudah. Rasanya tidak enak kakek berada di apartemenku yg sederhana (sangat sederhana malahan). Kadang kakek menyuruh sopirnya tuk menjemputku menemaninya makan siang atau makan malam. Putranya berada di Jepang mengurusi bisnis di sana, cucunya mengurusi bisnis di sini hanya saja telah memiliki rumah sendiri. Jadinya kakek kesepian
Rasanya dua minggu ini terasa lebih lama, dgn segenap kemampuan dan alasan diriku mencoba menghindar dr Satya. Ajakan makan siang selalu kutolak dgn berbagai alasan, membawa bekal lah, diajakin teman, g nafsu makan, hingga akhirnya kubilang kondisi kami sudah berubah, bukan lg sbg sahabat atau teman, melainkan antara atasan dan bawahan, lagian dia sudah bertunangan, bagaimana dgn pandangan org lain.
Mau tak mau mesti bercerita dgn rekan kerja (ria, mari, anton, brey dan maya). Kubilang kami teman seangkatan dan 1geng, hanya aja ketika kuliah berakhir kami bertengkar hebat hingga tak bertegur sapa dan kehilangan kontak. Jadinya sekarang terlihat canggung. Untungnya mereka mengerti. Baru 2minggu bekerja bersama mereka, rasanya sudah lama mengenal mereka. Canda tawa, keterbukaan, berbagi info dan tips, humor hingga membuat pekerjaan terasa lebih ringan.
Hingga akhirnya aku tak bisa menolak ajakan satya tuk mengantar pulang. Kini dia punya mobil tak seperti dulu yg naik motor, kelasnya kini berbeda denganku. Di mobil hanya diam-diaman, bingung dan canggung tuk memulai pembicaraan. Satya bilang ini bukan situasi atasan dan bawahan, tetapi teman lama yg baru bertemu (sambil membelokkan mobilnya ke cafe yg biasanya pas kuliah kami datangi).
Rasanya kembali ke masa lalu, ke malam itu, ketika kami bertengkar hebat. Karena aku terlalu membela helyan dan tak mempercayainya. Karena kutau kpn satya berbohong, dan kulihat tanda itu di matanya. Sejak malam itu persahabatan kami berakhir.
Kembali ke masa sekarang..
Satya bilang, sulit baginya tuk menganggap diriku bawahannya, memandang sama dgn staff yg lain, karena kami adalah org yg saling mengenal seperti saudara. Hingga kini tak ada org yg menggantikanku sbg sahabat terbaik, yg memahami kelemahan yg dia miliki. Kehilanganku masih bisa teratasi, tapi melihatku kembali terasa lebih sulit ribuan kali. Kulihat dia benar-benar tertekan.
'apa maumu? Apakah aku mesti berhenti kerja?'
'bukan itu maksudku! Kumohon jadilah temanku lagi, berada di sisiku!'
'apa maksud berada di sisimu?'
'entahlah..ku ingin seperti dahulu, teman bicara, berbagi kisah dan cerita, rasanya hidupku terasa lebih sulit tanpamu. Bolehkah aku meminta seperti itu?'
Tak terasa air mataku pun mengalir mengenang masa2 kuliah dulu. Hidupku pun terasa ribuan kali lebih sulit tanpa dirinya.
'hidupku juga terasa lebih sulit, hanya saja tuk kembali seperti dulu sungguh tak mungkin. Namun, sbg teman biasa yg mendengarkan curhat, kurasa itu mungkin. Kondisi sudah berubah dan waktu tlah berlalu.'
''Bertemu kembali dgn Kakek''
Entah dr mana kakek mengetahui tempat tinggalku, mungkin bg org kaya itu sangatlah mudah. Rasanya tidak enak kakek berada di apartemenku yg sederhana (sangat sederhana malahan). Kadang kakek menyuruh sopirnya tuk menjemputku menemaninya makan siang atau makan malam. Putranya berada di Jepang mengurusi bisnis di sana, cucunya mengurusi bisnis di sini hanya saja telah memiliki rumah sendiri. Jadinya kakek kesepian
Tentang Cintaku Part 2
''Masa Sekarang''
Bila ada yg bertanya, apakah diriku iri dgn orang lain? Pasti kujawab tidak, karena sudah terlalu lama dlm kondisi seperti ini. Kadang memang terbesit keinginan, hanya saja merasa tak sanggup. Bagiku semu perkara sudah diatur oleh Tuhan, tinggal menunggu waktunya tiba, pd saat dan waktu yg tepat (pasrah mode: on).
Hingga akhirnya..
Tak sengaja bertemu dgn seorang kakek di pemakaman ayah dan ibu.
Seperti biasa, hr ini adalah peringatan kematian orangtuaku, kecelakaan 10thn yg lalu yg membuatku menjadi yatim piatu. Rasanya sudah lama sekali tak merasakan 'keluarga' itu seperti apa. Ketika kakek itu memelukku, tak berasa air mataku mengalir, tangis pun akhirnya tumpah.
Kakek ini adalah atasan ayah di kantor, org yg dianggap orangtua oleh ayah yg memang yatim piatu.
Setelah tangisku reda kakek bertanya byk hal pdku, kuliah dimana, bekerja dimana, tinggal dimana dan dgn siapa, bagaimana aku menjalani hariku.
Dgn wajah menatap matanya, ku bilang aku cukup kuat dan hebat menjadi yatim piatu sejak SMP, walaupun terseok-seok akhirnya bisa juga menyelesaikan kuliahku, dgn kemampuan dan biaya sendiri. Walaupun sekarang jadi pengangguran karena seminggu yg lalu berhenti kerja karena tak ada kecocokan dgn atasan (alias dipecat). Semakin dikeluhkan maka akan semakin terasa berat, jalani apa adanya.
Kakek itu menangis dan berlutut didepan makam ayah. Kulihat dia begitu terpukul dan bersedih, yg kutahu ayah seperti anaknya sendiri bahkan lebih. Wajar, karena ayahku adalah org terbaik yg pernah ku kenal dan mungkin juga bg org lain.
Ketika diajak makan siang, aku menolak dgn alasan hr ini ada wawancara kerja.
Dalam hati, kuberharap akan bertemu lagi dgn kakek.
''Benar-benar tak terduga''
Dapat kerjaan baru di kantor yg bergengsi bukannya senang, malah dilema. Karena, yg menjadi atasanku adalah satya, sahabat yg juga cowok yg kusakai ketika kuliah. Mestinya bahagia bertemu pujaan hati, hanya saja kini dirinya sudah bertunangan, seperti yg terlihat di jarinya. Aku takut, tak bisa mengontrol perasaan dan mengacaukan pekerjaan. Walaupun masa lalu, tetap saja jantungku berdegup kencang ketika berada di dekatnya.
But..
Aku tak punya pilihan lain, tabungan semakin menipis dan sewa apartemen sudah tertunggak, kalo tak mengambil kesempatan ini, entah bagaimana nanti hidupku selanjutnya.
''Hari Pertama Kerja''
Gugup, tp kurasa harus bisa melewati hari ini karena ini adalah awal, hari esok masih akan berlangsung.
Rasanya jantungku makin berdetak kencang ketika satya (bos cuey!) Menjabat tanganku dan bilang 'senang kau begabung disini', senyumnya itu membuat jantungku berhenti.
Tugasku menerima laporan dr divisi2 lain, menginput dan menelaah laporan tsb sebelum diserahkan ke atasan (satya). Untungnya, ruangan atasan dan staff terpisah, lumayan terhindar tuk bertemu dengannya. Untungnya lagi, staff yg lain orangnya bersahabat, tak butuh waktu lama beradaptasi dgn mereka.
Bila ada yg bertanya, apakah diriku iri dgn orang lain? Pasti kujawab tidak, karena sudah terlalu lama dlm kondisi seperti ini. Kadang memang terbesit keinginan, hanya saja merasa tak sanggup. Bagiku semu perkara sudah diatur oleh Tuhan, tinggal menunggu waktunya tiba, pd saat dan waktu yg tepat (pasrah mode: on).
Hingga akhirnya..
Tak sengaja bertemu dgn seorang kakek di pemakaman ayah dan ibu.
Seperti biasa, hr ini adalah peringatan kematian orangtuaku, kecelakaan 10thn yg lalu yg membuatku menjadi yatim piatu. Rasanya sudah lama sekali tak merasakan 'keluarga' itu seperti apa. Ketika kakek itu memelukku, tak berasa air mataku mengalir, tangis pun akhirnya tumpah.
Kakek ini adalah atasan ayah di kantor, org yg dianggap orangtua oleh ayah yg memang yatim piatu.
Setelah tangisku reda kakek bertanya byk hal pdku, kuliah dimana, bekerja dimana, tinggal dimana dan dgn siapa, bagaimana aku menjalani hariku.
Dgn wajah menatap matanya, ku bilang aku cukup kuat dan hebat menjadi yatim piatu sejak SMP, walaupun terseok-seok akhirnya bisa juga menyelesaikan kuliahku, dgn kemampuan dan biaya sendiri. Walaupun sekarang jadi pengangguran karena seminggu yg lalu berhenti kerja karena tak ada kecocokan dgn atasan (alias dipecat). Semakin dikeluhkan maka akan semakin terasa berat, jalani apa adanya.
Kakek itu menangis dan berlutut didepan makam ayah. Kulihat dia begitu terpukul dan bersedih, yg kutahu ayah seperti anaknya sendiri bahkan lebih. Wajar, karena ayahku adalah org terbaik yg pernah ku kenal dan mungkin juga bg org lain.
Ketika diajak makan siang, aku menolak dgn alasan hr ini ada wawancara kerja.
Dalam hati, kuberharap akan bertemu lagi dgn kakek.
''Benar-benar tak terduga''
Dapat kerjaan baru di kantor yg bergengsi bukannya senang, malah dilema. Karena, yg menjadi atasanku adalah satya, sahabat yg juga cowok yg kusakai ketika kuliah. Mestinya bahagia bertemu pujaan hati, hanya saja kini dirinya sudah bertunangan, seperti yg terlihat di jarinya. Aku takut, tak bisa mengontrol perasaan dan mengacaukan pekerjaan. Walaupun masa lalu, tetap saja jantungku berdegup kencang ketika berada di dekatnya.
But..
Aku tak punya pilihan lain, tabungan semakin menipis dan sewa apartemen sudah tertunggak, kalo tak mengambil kesempatan ini, entah bagaimana nanti hidupku selanjutnya.
''Hari Pertama Kerja''
Gugup, tp kurasa harus bisa melewati hari ini karena ini adalah awal, hari esok masih akan berlangsung.
Rasanya jantungku makin berdetak kencang ketika satya (bos cuey!) Menjabat tanganku dan bilang 'senang kau begabung disini', senyumnya itu membuat jantungku berhenti.
Tugasku menerima laporan dr divisi2 lain, menginput dan menelaah laporan tsb sebelum diserahkan ke atasan (satya). Untungnya, ruangan atasan dan staff terpisah, lumayan terhindar tuk bertemu dengannya. Untungnya lagi, staff yg lain orangnya bersahabat, tak butuh waktu lama beradaptasi dgn mereka.
Tentang Cintaku
''Cinta Pertama''
Cinta monyetku terjadi ketika masa SMP. Dia adalah Jaka, anak kelas sebelah yg lumayan cute. Masih kuingat, ketika ulangan bhs. Inggris kebetulan dia lewat, rasanya senang sekali walaupun memandangnya dari kejauhan. Padahal bentar lagi waktu tes berakhir, dgn melihatnya rasanya otakku jadi cemerlang dan bisa ngerjain soal sulit yg awalnya kubiarkan saja, ajaibnya malah dgn mudah kukerjakan.
Sayangnya, kami hanyalah sekedar teman satu sekolah, diriku terlalu pengecut dan gengsi tuk mengatakannya. Parahnya lagi, cowok itu menyukai saudaraku.
Lemes...
''Masa SMA''
Merasa minder di antara orang2 kaya, cantik/tampan, dan pintar. Terkekang akan rasa keputusasaan, menjadi org yg sebisanya tak terlihat dan tak mengundang pertanyaan 'siapa dia'.
Hanya bisa tersenyum getir ketika memandang cowok yg kusakai, apalagi berada daerah rumah yg sama jadinya sering 1bis bareng. Kali ini lumayan ada kemajuan, punya keberanian bicara dan bercanda ria, tapi hanya sebatas teman, tak pernah lebih. Karena, cowok ini akhirnya pacaran ma sahabatku. Sampai kapanpun dia tak akan tau perasaan ini.
''Masa Kuliah''
Tak tau bermula dr mana rasa itu mulai tumbuh, diantara kebersamaan antara dia dan diriku. Ketika kusadari diriku telah mencintai sahabatku sendiri, org yg selama ini selalu bersamaku dan mengisi hari-hariku. Kurasakan rasa cemburu ketika dia dekat wanita lain, hingga membuatku sikapku makin egois, sensitif dan pemarah.
Bagiku dia adalah laki-laki terbaik yg pernah ku kenal, cowok yg bisa mengerti dan memahamiku, org yg bisa kuterima kekurangan dan kelebihannya. Sayangnya waktuku begitu sempit, kuliah ku sudah berakhir, yg artinya semua kebersamaan ini harus berakhir, karena aku terlalu pengecut tuk berharap lebih, karena dia pun hanya menganggap diriku sebagai sahabat. Hingga akhirnya dirinya menghilang tanpa kabar, membawa cintaku pergi, hingga pintu hati ini tertutup tak bisa menerima siapapun selain dirinya.
Seperti lagu Geisha 'cintaku hilang'.
''Masa Sekarang''
Terperangkap oleh cinta yg tak terbalas, berada dlm khayalan tak berujung disertai doa sepanjang malam agar soulmate kembali. Terperangkap oleh kesempurnaan sosoknya hingga tak ada yg bisa menggantikannya.
Pada akhirnya, menjadi cewek yg antikomitmen, menikmati hidup dgn bebas dlm kesendirian yg sepi... Yg menantikan pangeran berkuda putih. (Ngayal mode: on).
Cinta monyetku terjadi ketika masa SMP. Dia adalah Jaka, anak kelas sebelah yg lumayan cute. Masih kuingat, ketika ulangan bhs. Inggris kebetulan dia lewat, rasanya senang sekali walaupun memandangnya dari kejauhan. Padahal bentar lagi waktu tes berakhir, dgn melihatnya rasanya otakku jadi cemerlang dan bisa ngerjain soal sulit yg awalnya kubiarkan saja, ajaibnya malah dgn mudah kukerjakan.
Sayangnya, kami hanyalah sekedar teman satu sekolah, diriku terlalu pengecut dan gengsi tuk mengatakannya. Parahnya lagi, cowok itu menyukai saudaraku.
Lemes...
''Masa SMA''
Merasa minder di antara orang2 kaya, cantik/tampan, dan pintar. Terkekang akan rasa keputusasaan, menjadi org yg sebisanya tak terlihat dan tak mengundang pertanyaan 'siapa dia'.
Hanya bisa tersenyum getir ketika memandang cowok yg kusakai, apalagi berada daerah rumah yg sama jadinya sering 1bis bareng. Kali ini lumayan ada kemajuan, punya keberanian bicara dan bercanda ria, tapi hanya sebatas teman, tak pernah lebih. Karena, cowok ini akhirnya pacaran ma sahabatku. Sampai kapanpun dia tak akan tau perasaan ini.
''Masa Kuliah''
Tak tau bermula dr mana rasa itu mulai tumbuh, diantara kebersamaan antara dia dan diriku. Ketika kusadari diriku telah mencintai sahabatku sendiri, org yg selama ini selalu bersamaku dan mengisi hari-hariku. Kurasakan rasa cemburu ketika dia dekat wanita lain, hingga membuatku sikapku makin egois, sensitif dan pemarah.
Bagiku dia adalah laki-laki terbaik yg pernah ku kenal, cowok yg bisa mengerti dan memahamiku, org yg bisa kuterima kekurangan dan kelebihannya. Sayangnya waktuku begitu sempit, kuliah ku sudah berakhir, yg artinya semua kebersamaan ini harus berakhir, karena aku terlalu pengecut tuk berharap lebih, karena dia pun hanya menganggap diriku sebagai sahabat. Hingga akhirnya dirinya menghilang tanpa kabar, membawa cintaku pergi, hingga pintu hati ini tertutup tak bisa menerima siapapun selain dirinya.
Seperti lagu Geisha 'cintaku hilang'.
''Masa Sekarang''
Terperangkap oleh cinta yg tak terbalas, berada dlm khayalan tak berujung disertai doa sepanjang malam agar soulmate kembali. Terperangkap oleh kesempurnaan sosoknya hingga tak ada yg bisa menggantikannya.
Pada akhirnya, menjadi cewek yg antikomitmen, menikmati hidup dgn bebas dlm kesendirian yg sepi... Yg menantikan pangeran berkuda putih. (Ngayal mode: on).
Sunday, December 19, 2010
Hidupku
Hidupku terasa hampa..
Teman tak punya, pacar juga orang tua. Ayah & ibu selalu sibuk dgn pekerjaan mereka. Saudara? Seakan diriku anak tunggal. Rheo diusir dr rmh karena tak mau kuliah di Kedokteran. Nayla, kabur dgn laki-laki miskin yg menghamilinya. Sedangkan diriku, berusaha tuk tetap waras.
Pacar, diembat org.
Teman, org yg ngembat pacarq. Hoah..
Benar-benar brengsek..
Untuk membuatku tetap waras, kakek malah menjodohkan aq dgn lelaki yg katanya seorang arsitek. Menolak pun tak berdaya. Kakek mengancam tak akan menerimaku lg di rumahnya. Padahal cuman di sana aku merasa benar-benar punya keluarga. Akhirnya kusetujui, tentu saja dgn syarat aku dan si laki-laki yg memutuskan apakah akan melangkah ke jenjang selanjutnya atau tdk (setelah 100hr). Lumayan lama.. Ternyata, laki-laki itu setuju karena ada bisnis dgn kakek. Brengsek..
Ternyata, laki-laki itu Dekka, kakak kelas SMA, terkenal karena selalu juara s'angkatan+tampangnya yg cute.
Kulihat sepertinya keluarganya tak suka akan perjodohan, apalagi ketika melihatku.
Aku sudah diceramahi (bahkan diancam) agar bersikap ramah dan sopan utk acara hari ini.
Sikap basa-basi ini hampir membunuhku. Pertanyaan tentang nama, umur, pekerjaan, kuliah dimana, hobby, keahlian, kenalan dan tetek bengeknya. Untunglah kami berdua disuruh keluar, alasannya supaya berbicara secara pribadi.
"jujur, diriku menyetujui perjodohan ini karena masalah bisnis dgn kakekmu, hanya saja saat ku tau org yg dijodohkan adalah kamu, org yg lumayan ku kenal, maksudku karena kau adalah adik kelasku paling tidak ada persamaan diantara kita. Intinya, paling tidak kau ataupun aku sudah saling kenal, walaupun hanya sebagai kakak dan adik kelas".
"Tentu saja,,sapa yg tak kenal dgn dirimu, si langganan juara kelas. he.. berbanding terbalik dengan diriku adik kelas yg tak terkenal, dan biasa-biasa saja".
"jgn merendah! bagiku tak ada seorangpun yang luput dari penglihatanku. Masih kuingat , kau adalah siswa yg biasanya berada di atap sekolah, nilai sempurna tuk pelajaran bhs asing, terakhir si jenius musik. bagaimana?"
Jenius musi... kata yg membuatku tercekat, darimana dia tau semua itu, hanya segelintir orang yang tau akan bakatku.
"Sudah ku bilang aku tau banyak hal"
Hm..diriku hanya bisa tersenyum,,,
(Duduk berdua di bangku taman)
"Dekka? Bagaimana menurutmu dengan pertunangan ini? Apakah merasa terpaksa?"
"Well, mau tidak mau aku harus menyetujui pertunangan ini. Tapi, untuk lebih lanjutnya merupakan keputusan kita. tak ada salahnya mencoba kan? Jujur diriku malah mendapatkan keuntungan dari pertunangan ini. Apalagi setelah yg kutau tunanganku itu dirimu."
"Aku pun begitu, kakek mengetahui kelemahanku hingga terpaksa menyetujui petunangan ini. Seperti apa katamu, tak ada salahnya mencoba. Kuharap kita bisa melewati 3 bulan kedepan, terlepas dari keputusan apa yang kita pilih ke depannya nanti, kuharap kita bisa menjadi temab baik."
"setuju"
(Dalam kamar di rumah kakek)
Kukira bakal menjalani hari-hari pertunanganku seperti biassa, ternyata setiap hari sudah ada jadwal yang harus kami lalui bersama. Hmm..
O iya, barusan aku mendapat telpon dari ayah yang memintaku ke kantornya. Well, sejak kepulanganku dari Paris belum sempat pulang ke rumah apalagi menemui orangtuaku. Rasanya malas sekali.. but, must I do.
Tentang dekka, sepertinya aku bisa menjalani hari-hari pertunanganku dengan lancar, karena dia adalah Mr. Right yang diharapkan semua cewek. Sedangkan diriku? Entahlah..
Teman tak punya, pacar juga orang tua. Ayah & ibu selalu sibuk dgn pekerjaan mereka. Saudara? Seakan diriku anak tunggal. Rheo diusir dr rmh karena tak mau kuliah di Kedokteran. Nayla, kabur dgn laki-laki miskin yg menghamilinya. Sedangkan diriku, berusaha tuk tetap waras.
Pacar, diembat org.
Teman, org yg ngembat pacarq. Hoah..
Benar-benar brengsek..
Untuk membuatku tetap waras, kakek malah menjodohkan aq dgn lelaki yg katanya seorang arsitek. Menolak pun tak berdaya. Kakek mengancam tak akan menerimaku lg di rumahnya. Padahal cuman di sana aku merasa benar-benar punya keluarga. Akhirnya kusetujui, tentu saja dgn syarat aku dan si laki-laki yg memutuskan apakah akan melangkah ke jenjang selanjutnya atau tdk (setelah 100hr). Lumayan lama.. Ternyata, laki-laki itu setuju karena ada bisnis dgn kakek. Brengsek..
Ternyata, laki-laki itu Dekka, kakak kelas SMA, terkenal karena selalu juara s'angkatan+tampangnya yg cute.
Kulihat sepertinya keluarganya tak suka akan perjodohan, apalagi ketika melihatku.
Aku sudah diceramahi (bahkan diancam) agar bersikap ramah dan sopan utk acara hari ini.
Sikap basa-basi ini hampir membunuhku. Pertanyaan tentang nama, umur, pekerjaan, kuliah dimana, hobby, keahlian, kenalan dan tetek bengeknya. Untunglah kami berdua disuruh keluar, alasannya supaya berbicara secara pribadi.
"jujur, diriku menyetujui perjodohan ini karena masalah bisnis dgn kakekmu, hanya saja saat ku tau org yg dijodohkan adalah kamu, org yg lumayan ku kenal, maksudku karena kau adalah adik kelasku paling tidak ada persamaan diantara kita. Intinya, paling tidak kau ataupun aku sudah saling kenal, walaupun hanya sebagai kakak dan adik kelas".
"Tentu saja,,sapa yg tak kenal dgn dirimu, si langganan juara kelas. he.. berbanding terbalik dengan diriku adik kelas yg tak terkenal, dan biasa-biasa saja".
"jgn merendah! bagiku tak ada seorangpun yang luput dari penglihatanku. Masih kuingat , kau adalah siswa yg biasanya berada di atap sekolah, nilai sempurna tuk pelajaran bhs asing, terakhir si jenius musik. bagaimana?"
Jenius musi... kata yg membuatku tercekat, darimana dia tau semua itu, hanya segelintir orang yang tau akan bakatku.
"Sudah ku bilang aku tau banyak hal"
Hm..diriku hanya bisa tersenyum,,,
(Duduk berdua di bangku taman)
"Dekka? Bagaimana menurutmu dengan pertunangan ini? Apakah merasa terpaksa?"
"Well, mau tidak mau aku harus menyetujui pertunangan ini. Tapi, untuk lebih lanjutnya merupakan keputusan kita. tak ada salahnya mencoba kan? Jujur diriku malah mendapatkan keuntungan dari pertunangan ini. Apalagi setelah yg kutau tunanganku itu dirimu."
"Aku pun begitu, kakek mengetahui kelemahanku hingga terpaksa menyetujui petunangan ini. Seperti apa katamu, tak ada salahnya mencoba. Kuharap kita bisa melewati 3 bulan kedepan, terlepas dari keputusan apa yang kita pilih ke depannya nanti, kuharap kita bisa menjadi temab baik."
"setuju"
(Dalam kamar di rumah kakek)
Kukira bakal menjalani hari-hari pertunanganku seperti biassa, ternyata setiap hari sudah ada jadwal yang harus kami lalui bersama. Hmm..
O iya, barusan aku mendapat telpon dari ayah yang memintaku ke kantornya. Well, sejak kepulanganku dari Paris belum sempat pulang ke rumah apalagi menemui orangtuaku. Rasanya malas sekali.. but, must I do.
Tentang dekka, sepertinya aku bisa menjalani hari-hari pertunanganku dengan lancar, karena dia adalah Mr. Right yang diharapkan semua cewek. Sedangkan diriku? Entahlah..
Friday, October 29, 2010
Part 2
Dalam ketidaksadaran, ku merasakan pelukan dan belaian hangat orang tua, seperti dulu ketika mereka masih hidup. Tangan hangat yg membelai pipiku, isak tangis, kata2 yg menyuruhku tuk bangun membuka mata. Tapi, aku takut ketika nanti membuka mata, yg kulihat tak seperti yg kuinginkan, hanyalah khayalan yg tak nyata.
Nyatanya, ketika membuka mata kudapati sosok yg ku kenal memegang erat tanganku dan terisak-isak menangis. Tante nia dan Om Ryan, teman papa. Dulu mereka pernah memintaku tinggal bersama mereka, tapi kutolak dgn alasan kemandirian.
Well, tetap saja merasa kecewa. Diriku berharap mendapati ayah dan ibu, org2 yg slama ini ku rindukan.
==========>
Sudah berhari-hari diriku di sini, ku dapati mereka bergantian siang dan malam menjagaku, seperti anak mereka sendiri. Diriku hanya demam, tp begitu parah karena kehujanan semaleman. Kini, infus sudah dicabut dan diriku sudah bisa makan (walaupun sedikit karena tak nafsu makan). Tetap saja kepalaku masih nyut2n, rasanya males tuk beranjak dr tempat tidur. Hanya aja, mencium bau gosong, bukannya tante nia berangkat kerja?
Walaupun terseok-seok, akhirnya nyampe juga di dapur. Ternyata benar, makanan hangus yg bikin perutku mual. Ku dapati seorang cowok dan anak laki2 yg mendesah kecewa. 'apa yg kalian lakukan?' yg pasti sudah ku tau memasak, dan hasilnya sangat tak memuaskan. Dgn sisa tenaga yg tersisa, membuka kulkas dan mereka apa yg mesti dilakukan, mengambil sayuran dan ayam, memotong-motong dan membumbui. Sementara mereka berdua ku minta membersihkan wajan yg hangus dan peralatan masak.
Tak begitu lama, jadilah sup ayam, ayam tepung, oseng2 dan sambel. Ku lihat mereka berdua tersenyum senang dan puas. Bahagia juga melihatnya.
Bukannya menikmati apa yg ku masak, diriku malah menghempaskan diri di sofa ruang tamu dan tertidur.
Dalam tidurku ku bermimpi memasak dgn ibu, truk menikmatinya sekeluarga. Canda tawa dan senyum mereka membuatku tak ingin sadar dr mimpi ini.
Nyatanya, ketika membuka mata kudapati sosok yg ku kenal memegang erat tanganku dan terisak-isak menangis. Tante nia dan Om Ryan, teman papa. Dulu mereka pernah memintaku tinggal bersama mereka, tapi kutolak dgn alasan kemandirian.
Well, tetap saja merasa kecewa. Diriku berharap mendapati ayah dan ibu, org2 yg slama ini ku rindukan.
==========>
Sudah berhari-hari diriku di sini, ku dapati mereka bergantian siang dan malam menjagaku, seperti anak mereka sendiri. Diriku hanya demam, tp begitu parah karena kehujanan semaleman. Kini, infus sudah dicabut dan diriku sudah bisa makan (walaupun sedikit karena tak nafsu makan). Tetap saja kepalaku masih nyut2n, rasanya males tuk beranjak dr tempat tidur. Hanya aja, mencium bau gosong, bukannya tante nia berangkat kerja?
Walaupun terseok-seok, akhirnya nyampe juga di dapur. Ternyata benar, makanan hangus yg bikin perutku mual. Ku dapati seorang cowok dan anak laki2 yg mendesah kecewa. 'apa yg kalian lakukan?' yg pasti sudah ku tau memasak, dan hasilnya sangat tak memuaskan. Dgn sisa tenaga yg tersisa, membuka kulkas dan mereka apa yg mesti dilakukan, mengambil sayuran dan ayam, memotong-motong dan membumbui. Sementara mereka berdua ku minta membersihkan wajan yg hangus dan peralatan masak.
Tak begitu lama, jadilah sup ayam, ayam tepung, oseng2 dan sambel. Ku lihat mereka berdua tersenyum senang dan puas. Bahagia juga melihatnya.
Bukannya menikmati apa yg ku masak, diriku malah menghempaskan diri di sofa ruang tamu dan tertidur.
Dalam tidurku ku bermimpi memasak dgn ibu, truk menikmatinya sekeluarga. Canda tawa dan senyum mereka membuatku tak ingin sadar dr mimpi ini.
Part 1
Gw benar-benar muak dgn yg namanya cowok, yg baik sekalipun tetep melirik org lain (alias selingkuh). Tak bisa percaya lagi.. Ngembat temen pacar, mana gw ngliat pas mereka lagi begituan. Parah..
Adit, cowok alim yg udah q pacarin sejak smp, ternyata tergoda juga ma ine, cewek seksi nan cantik, yg juga sahabat dan teman 1 asrama (mantan dh). Bulsyit..
Tak tau arah mesti k mana, akhirnya malah nyampe di makam ortu. Tangis yg selama ini ku tahan, akhirnya tumpah juga. Bertanya pd Tuhan, kenapa takdirku sesulit ini, rasanya sudah berada di ambang batas kekuatanku. Kini, tak ada pegangan dlm hidupku lagi. Semua hancur berantakan, masa depan yg ku susun pelan-pelan, ambruk juga.
Tak ingin kembali ke asrama, mau tak mau bakal ketemu ine atau malahan mereka berdua. Biarlah di sini saja, dekat dgn k'2 ortu. Biarlah hujan2n seperti ini..
==========>
Samar-samar ku rasa matahari perlahan muncul, setelelah semaleman hujan deras. Ketika mulai menggerakan tubuh rasanya kaku sekali, mencoba bangkit tak bisa, kepalaku pusing sekali. Antara sadar dan tidak sepertinya mendengar suara memanggil namaku, org yg ku kenal di masa lalu..
Pengen menoleh dan melihat sapa yg datang, tapi tubuhku sama sekali tak berdaya.
Adit, cowok alim yg udah q pacarin sejak smp, ternyata tergoda juga ma ine, cewek seksi nan cantik, yg juga sahabat dan teman 1 asrama (mantan dh). Bulsyit..
Tak tau arah mesti k mana, akhirnya malah nyampe di makam ortu. Tangis yg selama ini ku tahan, akhirnya tumpah juga. Bertanya pd Tuhan, kenapa takdirku sesulit ini, rasanya sudah berada di ambang batas kekuatanku. Kini, tak ada pegangan dlm hidupku lagi. Semua hancur berantakan, masa depan yg ku susun pelan-pelan, ambruk juga.
Tak ingin kembali ke asrama, mau tak mau bakal ketemu ine atau malahan mereka berdua. Biarlah di sini saja, dekat dgn k'2 ortu. Biarlah hujan2n seperti ini..
==========>
Samar-samar ku rasa matahari perlahan muncul, setelelah semaleman hujan deras. Ketika mulai menggerakan tubuh rasanya kaku sekali, mencoba bangkit tak bisa, kepalaku pusing sekali. Antara sadar dan tidak sepertinya mendengar suara memanggil namaku, org yg ku kenal di masa lalu..
Pengen menoleh dan melihat sapa yg datang, tapi tubuhku sama sekali tak berdaya.
Subscribe to:
Posts (Atom)